Peta Persaingan yang Belum Berubah
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa kehadiran bank digital belum mampu menggeser dominasi perbankan konvensional di Indonesia. Hingga Maret 2026, pangsa pasar bank digital tercatat masih di bawah 2% dari sisi total aset, kredit, dan dana pihak ketiga (DPK) industri perbankan nasional . Angka ini menunjukkan bahwa meskipun gelombang digitalisasi terus menguat, fondasi bisnis bank tradisional yang telah dibangun puluhan tahun masih sangat kokoh.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengungkapkan bahwa migrasi nasabah secara masif dari bank konvensional ke bank digital sejauh ini belum terjadi. Kedua model bisnis ini justru dinilai masih berjalan beriringan dan tumbuh di segmen pasar masing-masing .
Pertumbuhan Rekening yang Melesat, tetapi Pangsa Aset Tetap Kecil
Meski pangsa pasar masih mini, pertumbuhan rekening bank digital mencatatkan angka yang jauh melampaui rata-rata industri. Per Maret 2026, rekening DPK bank digital tumbuh 35,38% secara tahunan, sementara rekening kreditnya melesat 27,31% year-on-year. Sebagai perbandingan, pertumbuhan rekening DPK industri perbankan secara keseluruhan hanya merangkak 1,70% yoy, dan rekening kredit industri tumbuh 5,63% yoy .
Data ini menunjukkan adanya paradoks menarik: bank digital berhasil menarik nasabah baru dengan sangat cepat, tetapi nilai aset yang mereka kelola belum sebanding dengan raksasa perbankan konvensional.
Fenomena Multi-Rekening dan Perilaku Nasabah
Maraknya opsi rekening digital ternyata tidak serta-merta membuat masyarakat menutup akun bank tradisional mereka. Fenomena yang terjadi justru menunjukkan kecenderungan multi-rekening, di mana nasabah memisahkan kebutuhan transaksi harian di bank digital sementara pos investasi dan tabungan utama tetap berada di bank konvensional .
OJK bersama industri perbankan terus menggalakkan edukasi literasi keuangan digital agar pertumbuhan akun yang masif dibarengi dengan pemahaman risiko yang matang. Langkah ini penting untuk membentengi masyarakat dari jerat investasi ilegal yang kerap menyalahgunakan celah digitalisasi .
Kekuatan Struktural Bank Konvensional
Bank konvensional memiliki keunggulan struktural yang sulit ditandingi bank digital dalam jangka pendek. Jaringan cabang fisik yang luas, basis nasabah korporasi yang mapan, serta kepercayaan yang terbangun selama puluhan tahun menjadi benteng pertahanan yang kokoh. Selain itu, bank konvensional juga mengadopsi teknologi digital melalui platform mobile banking mereka sendiri, sehingga mampu melayani nasabah di kedua kanal sekaligus.
Redseer dalam laporannya pada April 2026 mencatat bahwa meskipun bank digital dan tradisional tumbuh cepat, para pemenang dalam persaingan ini akan membutuhkan keunggulan biaya yang jelas dan underwriting kredit yang lebih kuat. Jika tidak, sebagian besar pertumbuhan akan tetap berada di tangan bank tradisional, bahkan untuk kredit yang bersumber secara digital .
Dinamika yang Perlu Dicermati
Persaingan antara bank tradisional dan bank digital bukanlah pertarungan zero-sum. Keduanya memiliki segmen pasar yang berbeda dan saling melengkapi. Bank digital unggul dalam akuisisi nasabah muda dan kemudahan transaksi harian, sementara bank konvensional tetap dominan dalam pembiayaan korporasi dan pengelolaan dana besar.
Yang perlu dicermati ke depan adalah bagaimana bank digital mengonversi pertumbuhan rekening yang pesat menjadi pangsa aset yang signifikan. Tanpa kemampuan menghimpun dana murah dalam jumlah besar dan menyalurkannya secara prudent, pertumbuhan rekening hanya akan menjadi angka statistik tanpa dampak struktural terhadap lanskap perbankan nasional.

