Dari Pakan Ternak ke Pasar Global: Strategi Diversifikasi Produk UKM Berbasis Komoditas Lokal

Dari Pakan Ternak ke Pasar Global: Strategi Diversifikasi Produk UKM Berbasis Komoditas Lokal

Indonesia memiliki kekayaan komoditas lokal yang melimpah, namun ironisnya banyak yang masih dijual dalam bentuk mentah dengan nilai tambah rendah. Daun kelor, misalnya, selama puluhan tahun hanya dikenal sebagai sayur bening atau pakan ternak. Padahal, World Health Organization (WHO) telah mengakui kelor sebagai superfood dan miracle tree karena kandungan gizinya yang luar biasa.

Anita Wahyu Deviani, seorang guru IPAS di SMKN Kasiman, Bojonegoro, membuktikan bahwa diversifikasi produk dapat mengubah nasib komoditas lokal. Melalui lini bisnis Herbasina Nutrindo yang dirintis sejak masa pandemi, ia mengolah daun kelor menjadi beragam produk inovatif: kapsul kelor, cokelat kelor (MoriChoco), minyak kelor, mie goreng kelor, es krim kelor, hingga sempol kelor.

Strategi diversifikasi yang terukur. Apa yang dilakukan Anita bukan sekadar menambah varian produk. Ia menerapkan strategi diversifikasi yang terukur dengan memahami kebutuhan pasar. “Produk-produk yang kami buat bisa membantu orang tua yang anaknya sulit makan sayuran, karena di dalam mie, cokelat, es krim, hingga sempol sudah terkandung kebaikan daun kelor,” jelasnya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa inovasi produk yang berhasil selalu berangkat dari pemahaman mendalam terhadap pain point konsumen. Diversifikasi bukan sekadar memperbanyak produk, melainkan menciptakan solusi yang relevan dengan kebutuhan spesifik pasar.

Dari pembinaan ke panggung internasional. Perjalanan Herbasina Nutrindo tidak lepas dari ekosistem pembinaan yang kuat. Dukungan Pertamina EP Cepu Zona 12 melalui program digital marketing, perbaikan kemasan, dan pelatihan mutu membawa bisnis ini lolos UMKM Academy 2025 dan terpilih di ajang SMEEXPO. Puncaknya, Herbasina Nutrindo bersiap tampil di pameran internasional Trade Expo Indonesia (TEI) pada 14–18 Oktober 2026 untuk menembus pasar global. Data terbaru Kementerian Perdagangan melalui https://kemendag.go.id menunjukkan sektor makanan dan minuman, produk herbal, serta produk pertanian dan perkebunan menjadi sektor yang paling diminati buyer global dalam program UMKM BISA Ekspor.

Pelajaran dari Bojonegoro untuk UKM Indonesia. Kisah Herbasina Nutrindo memberikan tiga pelajaran kunci. Pertama, inovasi produk tidak harus dimulai dari teknologi canggih, tetapi dari pemahaman mendalam tentang potensi lokal. Kedua, diversifikasi produk harus berorientasi pada solusi, bukan sekadar variasi. Ketiga, kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan—pemerintah, BUMN, dan lembaga pembinaan—mempercepat akses ke pasar global. Bagi UKM di daerah lain, pertanyaannya bukan lagi “apakah komoditas lokal saya bisa mendunia”, melainkan “bagaimana saya mengolahnya agar bernilai tinggi”. Jawabannya ada pada kemauan untuk berinovasi, memahami pasar, dan memanfaatkan ekosistem pendukung yang tersedia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *